JAKARTA//LIDIKPERISTIWA.COM - Fenomena alam yang semakin sering dan hebat terjadi di berbagai penjuru negeri, termasuk surutnya Sungai Kapuas secara drastis hingga memunculkan hamparan pasir luas yang kini dijadikan warga Sekadau tempat wisata dadakan dan munculnya
"ikan kiamat"di NTB, menjadi sorotan mendalam Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LSM MAUNG dan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) RAJAWALI. Peristiwa ini bukan sekadar perubahan iklim atau siklus cuaca biasa, melainkan bagian dari rangkaian tanda-tanda besar yang mengingatkan kita semua: alam sedang berbicara, peringatan terus disampaikan, dan segala pertanda ini mengarah pada satu kenyataan — kita semakin "mendekati akhir zaman".
Karhutla yang tak ever berhenti, kemarau yang berkepanjangan hingga mata air mati, gunung meletus bertubi-tubi, gempa bumi mengguncang di mana-mana, sungai besar yang kering kerontang — semuanya adalah tanda-tanda nyata yang sudah disampaikan leluhur dan tertulis dalam segala ajaran agama.
Menanggapi hal ini, Hadysa Prana, selaku Ketua Umum sekaligus Pendiri Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) dan Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI) , menyampaikan seruan yang menyentuh hati dan menggetarkan jiwa, meminta seluruh bangsa indonesia untuk benar-benar eling dan waspada.
Hadysa Prana: Tanda-Tanda Terus Muncul, Elinglah — Makin Banyak Tanda, Condong ke Akhir Zaman!
"Lihatlah Sungai Kapuas, sungai terpanjang dan nadi kehidupan Kalimantan, kini airnya menyusut drastis hingga dasar sungai terbuka, berubah menjadi hamparan pasir yang bahkan dijadikan tempat bermain.
Jangan tertawa, jangan senang, jangan jadikan ini sekadar pemandangan unik atau tempat wisata. Ingatlah, dahulu sungai ini dalam, deras, dan tak pernah kering. Kini ia surut hingga tandus. Ini bukan kebetulan! Ini adalah tanda besar yang disampaikan Tuhan dan alam kepada kita," tegas Hadysa Prana dengan suara bergetar.
"Lihatlah sekeliling kita: hutan terbakar habis, udara penuh asap, tanah retak tak berair, gunung meletus, bumi berguncang, bencana datang bertubi-tubi, Gejolak Perang Dunia Ke III. Semua tanda ini semakin banyak, semakin sering, semakin dahsyat. Dan kita tahu, menurut segala petuah leluhur dan ajaran agama — semakin banyak dan jelas tanda-tanda ini, berarti semakin dekatlah hari yang dijanjikan, semakin condong ke akhir zaman. Kita sering mendengar, tapi sering lupa. Kita sering tahu, tapi sering tak sadar. Hari ini, buktinya ada di depan mata kita sendiri," lanjutnya.
"Nabi dan para ulama telah mengajarkan: sebelum datangnya hari akhir, akan terjadi kerusakan di darat dan di laut, air berubah panas, sungai kering, bencana berdatangan, manusia lupa diri, merusak alam sesuka hati, dan menganggap kejahatan itu perbuatan baik.
Apakah kita tidak melihat semua itu terjadi sekarang? Apakah kita masih akan menutup telinga dan mata? Elinglah, waspadalah! Kita sedang hidup di masa-masa yang penuh pertanda itu!" Serunya.
Kerusakan Alam Sebagai Akibat Lupa Diri — Jangan Merusak, Kembalikan Keseimbangan Sebelum Terlambat!
Hadysa Prana menegaskan bahwa segala bencana dan tanda alam yang muncul bukanlah murka semata, melainkan akibat langsung dari ulah manusia sendiri yang lupa diri, lupa asal-usul, dan lupa bahwa alam ini bukan miliknya untuk dihancurkan.
"Manusia merasa berkuasa, merasa pintar, merasa boleh mengambil apa saja, menebang apa saja, membakar apa saja, mengeksploitasi apa saja tanpa batas. Kita lupa bahwa kita hanyalah makhluk, pengelola titipan, bukan pemilik mutlak. Kita merusak hutan, meracuni sungai, mengotori udara, merusak tanah — lalu heran mengapa alam membalas dengan bencana? Padahal segala ajaran leluhur berkata: 'Alam dijaga dengan rasa hormat, jika dilanggar akan memakan korban'.
Segala ajaran agama juga mengingatkan: 'Janganlah kamu merusak di muka bumi, sesudah (Tuhan) memperbaikinya'. Semua peringatan itu kita abaikan, dan kini akibatnya kita telan sendiri," paparnya.
"Oleh karena itu, saya serukan kepada seluruh seluruh Jajaran pengurus dan anggota maung ,rajawali dan segenap bangsa Indonesia: berhentilah merusak! Jangan tambah dosa dengan terus mengambil hak alam dan makhluk lain.
Kini tugas kita bukan sekadar berhenti merusak, tetapi wajib melestarikan kembali apa yang telah rusak. Tanamlah pohon, jaga sungai, lindungi hutan, kembalikan keseimbangan.
Bukan sekadar demi kenyamanan hidup hari ini, tapi demi bertobat, demi memperbaiki kesalahan, dan demi menyelamatkan sisa waktu sebelum segala sesuatu berakhir," tambahnya.
"Ingatlah, jika keseimbangan alam hilang, tak ada manusia yang bisa selamat. Jika bumi rusak, di mana lagi kita akan hidup? Dan ingatlah pula: setiap kerusakan yang kita buat, akan dituntut pertanggungjawabannya kelak. Baik di dunia maupun di akhirat nanti," tegasnya.
Kembali Memahami Petuah Leluhur dan Ajaran Agama — Semua Bersuara Satu: Waspada dan Berbuat Baik!
Hadysa Prana mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali merenungkan dan memahami segala wejangan leluhur serta petunjuk agama yang mengandung pesan mendalam tentang tanda zaman dan hubungan manusia dengan alam.
"Dari zaman dahulu, nenek moyang kita telah mewariskan petuah: 'Ketika sungai besar menjadi kering, ketika hutan lebat menjadi gundul, ketika bumi sering berguncang dan api berkobar di mana-mana, maka dekatlah waktunya perubahan besar'.
Kearifan ini bukan dongeng, tapi cerminan kebenaran yang telah mereka lihat dan pahami berabad-abad lalu. Dan kini kita melihatnya terwujud satu per satu di depan mata," ujarnya.
"Begitu pula ajaran agama yang kita anut. Semua agama sepakat mengingatkan: di masa menjelang akhir zaman, kerusakan akan merajalela, manusia menjadi sombong, menganggap kekayaan dan kekuasaan segala-galanya, melupakan Tuhan, melupakan kewajiban menjaga alam.
Kita diperintahkan untuk waspada, untuk beramal saleh, untuk menjaga kebenaran, dan tidak merusak. Semua petunjuk itu ada, tersimpan, dan disampaikan berulang kali. Apakah kita masih akan menganggap itu sekadar cerita lama? Apakah kita masih akan menutup hati?"
"Pelajari, pahami, dan amalkanlah. Karena baik kearifan leluhur maupun ajaran agama, keduanya adalah cahaya penuntun agar kita tidak tersesat di tengah gelapnya zaman.
Eling dan waspada bukan berarti pasrah, tapi berarti sadar, bertobat, berubah, dan berbuat sebaik-baiknya selagi masih diberi kesempatan," tegas Hadysa Prana.
MAUNG & RAJAWALI: Tetap Tegak Menyuarakan Kebenaran, Mengingatkan Hingga Akhir!
"DPP MAUNG dan DPN RAJAWALI akan tetap berdiri tegak, terus menyuarakan kebenaran, terus mengingatkan, dan terus berjuang menjaga alam dan keadilan. Kami tidak akan diam melihat kerusakan. Kami tidak akan diam melihat rakyat menderita akibat kelalaian dan keserakahan.
Tapi perjuangan ini butuh semua pihak. Mari kita bersatu: berhenti merusak, mulai menjaga, kembali beriman dan bertakwa, serta selalu eling dan waspada bahwa kita sedang berjalan mendekati hari yang pasti datang itu," pungkas Hadysa Prana.
"Semoga kita semua termasuk golongan yang sadar, bertobat, dan beramal saleh. Semoga alam kembali berkah, dan kita selamat di dunia serta selamat di akhirat nanti."
Publisher : TIM/RED
Penulis : TIM MAUNG & RAJAWALI
Ket Foto : Ilustrasi (Ist)
